Islam mengajarkan adab

Islam mengajarkan adab
Bahkan para ulama terdahulu belajar adab dulu sebelum fiqih

Adab kalau jaman sekarang sopan santun

Paper clip bekas hati2 adanya di bungkus dulu baru di buang jangan langsung dibuang
Kasihan tukang rosok

Ayo beradab belajar adab

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

Kenapa Suka Buku? Dan Apa Funsginya Buku?

Buku bisa buat gaya-gayaan sekaligus bisa buat hiasan dimeja kerja, meja belajar, meja diruang tamu, atau sudut-sudut ruangan rumah, ruangan kantor, ruang kelas, bahkan ruang perpustakaan 😀

Buku berfungsi juga untuk memenuhi ruang yang kosong agar menjadi berisi. Sesuatu yang kosong memiliki dampak kemubaziran. Mubazir artinya tak terpakai yang berujung menjadi sia-sia belaka.

Sesuatu yang kosong itu bisa berupa sebuah gedung yang memiliki ruangan. Lalu kemudian ruangan-ruangan yang ada didalam gedung tersebut tidak ada isinya sama sekali kecuali udara yang bersemayam didalamnya.

Jika suatu ruangan itu kosong, tidak ada isisnya, tidak ada manusia yang menempatinya, maka akan ada mahkluk lain yang akan tinggal pada ruangan kosong tersebut.

Lantas buku adalah alat untuk mengisi kekosongan otak dengan cara membaca dan memahami apa yang terkandung didalamnya.

Dengan demikian maka otak tidak menjadi sesuatu yang kosong yang  akan berujung pada kemubaziran dan tidak terpakai. Kecuali terisi dengan data-data maklumat yang secara otomatis memenuhi ruang kosong otak kita.

Manusia memiliki kepribadian berdasarkan dari persepsinya. Kepribadian bukan apa yang tampak dari luar. Kepribadian tidak ada hubungannya dengan aksesories yang dipakai. Itu hanya tanpak kuliat luarnya saja.

Kepribadian adalah bagaimana seseorang berpikir tentang sesuatu dengan persepsinya.

Persepsinya dibangun dari bagaimana cara manusia berpikir. Cara berpikir manusia sangat bergantung dari apa yang dimasukan kedalam pikiran melalu proses membaca, mendengar, merasa, dan melihat.

Upaya lebih utk tidak sekedar memasukan data base tentang bagaimana seseorang membangun persepsinya tentang sesuatu adalah dengan cara membaca.

Sehingga selain berfungsi sebagai hiasan meja dan gaya-gayaan bagi seseorang, buku berfungsi mengisi ruang-ruang kosong didalam otak manusia.

Karena otak manusia diciptakan oleh Allah SWT dapat menyimpan dengan kapasitas hingga tak terbatas.

Otak mampu memperoses hingga 30 miliar bit informasi per detiknnya. Itu artinya setara dengan 9.600 km kawat dan kabel.

Kekuatan otak manusia dalan memproses informasi sangat mengejutkan, khusunya jika Anda menganggap sebuah komputer super cepat hanya dapat melakukan koneksi 1 kali.

Sebaliknya, reaksi dalam satu sel saraf dapat menyebar ke ratusan ribu sel saraf lain dalam waktu kurang dari 20 seperseribu detik. Agar dapat dengan mudah membayangkan, itu sekitar sepuluh kali lebih cepat dari kedipan mata.

Dengan demikian maka suka buku sama dengan peduli dengan benda yang sangat bernilai tersebut.

Maka bangkitan manusia tergantung dari pemikirannya tentang, alam semesta , dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya.

Tidak ada cara lain untuk mengisi otak kita kecual dengan belajar, salah satunya dengan membaca buku. Tidak ada alasan untuk mengatakan tidak suka membaca, atau mengaku bukan type pembaca. Membaca adalah urusan mau atau tidak mau.

Jadi mengapa kamu suka buku?

Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan

Judul diatas adalah salah satu point dari tulisan tentang Manfaat Membaca Yang Sangat Menguntungkan Diri Kita.

Point pertama yang coba akan kita bahas disini adalah membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.

Setiap orang pasti memiliki rasa cemas dan gundah yang ada dalam hatinya. Tidak terkecuali seorang motivator, pelatih, atau  bahkan orang yang paling kuat sekalipun.

Mengapa?

Karena manusia memang memiliki fitrah seperti itu yang tidak dapat dihilangkan dalam dirinya.

Lantas bagaimana menyikapi keadaan rasa seperti itu?

Perasaan cemas dan gundah tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat kelola dengan cara menyikapi setiap kejadian-kejadian yang menghampiri dalam kehidupan kita sehari-hari.

Apakah mudah?

Setiap persoalan, kejadian, peristiwa yang terjadi memiliki level yang berbeda-beda. Sehingga setiap orang yang menyikapi peristiwa tersebut pun berbeda pula cara memahaminya.

Peristiwa yang sama akan mendapatkan penilaian yang berbeda dari setiap orang. Hal ini tergantung dari dua hal, level peristiwa tersebut atau level pemahaman dari orang yang mengalami peristiwa tersebut.

Ilustrasinya…

Ketika salah seorang teman menceritakan bahwa teman kita yang lain telah memfitnah diri kita, maka sikap seperti apa yang akan kita ambil? apakah bersikap reaktif atau proaktif?

Kalau tidak membaca atau tidak pernah mendapatkan maklumat tentang cara menyikapi kasus seperti ini, besar kemungkinan sikap yang dipilih adalah sikap reaktif. Tetapi akan berbeda pada orang yang telah mendapatkan maklumat tentang cara menyikapi peristiwa yang terjadi, pasti lebih memilih sikap proaktif.

Apakah orang yang telah mendapatkan maklumat menyikapi peristiwa dengan cara proaktif bebas dari sikap reaktif?

Belum tentu, karena seperti disebutkan diatas, tergantung dari dua hal, level peristiwa tersebut atau level pemahaman dari orang yang mengalami peristiwa tersebut.

Lantas level peristiwa itu ditentukan oleh apa?

Level itu ditentukan oleh seberapa jauh tentang pemahaman setiap kejadian yang menghampiri hidup kita.

Semua ini harus dicari, dipahami, sehingga menjadi pedoman hidup dalam mengarungi samudra kehidupan.

Cari dimana?

Ada banyak cara untuk kita mencari pedoman hidup, salah satunya adalah dengan cara membaca.

Dengan membaca akan banyak informasi yang kita dapatkan, dengan membaca banyak kisah yang menjadi pelajaran, dengan membaca akan mendapatkan ilmu cara menyikapi keadaan, dengan membaca wawasan menjadi luas, dengan membaca setiap masalah pasti ada sebab dan akibat, serta banyak hal lain yang akan kita dapatkan serta dapat membuat pikiran dan pandangan kita tidak sempit.

Namun materi bacaan harus dipilih yang kebenaranya harus kebenaran yang mutlak.

Sehingga semua sikap yang kita ambil tidak akan menjadi sesuatu yang relatif. Karena relatif itu akan membuat pandangan yang baik menurut kita namun belum tentu baik menurut orang lain.

Makanya teruslah membaca agar misteri kehidupan ini terungkap. Ada banyak misteri dan rahasia kehidupan yang tidak kita ketahui. Ketika kita mengetahui rahasia kehidupan itu, maka kita akan lebih tenang dalam menjalani setiap aktifitas hidup didunia.

Rahasia yang sebenarnya bukan rahasia, hanya saja kita kadang tidak memperhatikan rahasia tersebut.

Maka teruslah membaca!

Kadang kita melupakan hukum dari segala hukum dalam kehidupan ini. Kadang kita abai dan tidak mau membaca dan mengkaji hukum kehidupan ini yang bersumber dari yang membuat hukum.

Siapakah pembuat hukum mutlak kebenarannya yang harus wajib kita jalankan?

Tidak lain Dialah yang Wajibul Wujud, Allah SWT yang menciptakan manusia. Tempat manusia bergantug dari rasa cemas dan gundah dari setiap peristiwa dalam hidup.

Inilah Manfaat Membaca Yang Sangat Menguntungkan Diri Kita

image

Menurut ’Aidh bin Abdullah al-Qarni, ada 11 manfaat membaca:

1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.

2. Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.

3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang2 malas dan tidak mau bekerja.

4. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.

5. Membaca membatu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.

6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.

7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan orang-orang berilmu.

8. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.

9. Keyakinan seseorangakan bertambah ketika dia membaca buku2 yang bermanfaat, terutama buku2 yang ditulis oleh penulis2 yg baik. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.

10. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.

11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

By; teladanrasul

Lebih Baik Ga Sakit Hati Dari Pada Sakit Gigi

image

Sakit gigi itu rasanya sakit sekali,. sakitnya beda dengan rasa sakit yang lain. Kalau ada lagu yang liriknya “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati” besar kemungkinan giginya sehat alias belum pernah merasakan sakit gigi.

Karena salah besar kalau menganggap lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Bagi yang sudah berpengalaman sakit gigi pasti setuju dengan saya bahwa mending tidak sakit hati daripada sakit gigi.

Level sakit gigi itu masih berada pada level sakit yang biasa saja. Artinya ketika kita menderita sakit gigi belum pernah ada kerabat, sanak saudara, rekan kerja, rekan bisnis yang datang menjenguk. Kalaupun ada peristiwa tersebut saya yakin beritanya tidak akan sampai ke telinga kita karena tidak di blowup oleh media nasional.

Teringat sebuah hadist tentang orang sakit yang dosanya akan gugur ketika dia tertimpa sakit.

Maka dalam pikiran muncul pertanyaan “apakah sakit gigi juga dapat menggugurkan dosa? karena sakitnya benar-benar sakit yang luar biasa”

Pesan utama yang ingin saya sampaikan adalah tentang rasa sakit gigi yang sangat sangat sakit luar biasa..

Maka kalau dibandingkan sakit gigi dengan perasaan sakit hati maka perasaan sakit hati itu tidak ada apa-apanya..

Kalau harus memilih lebih baik tidak sakit hati dan tidak sakit gigi dari pada memilih kedua sakit tersebut.

How to Master Your Habits

Alhamdulillah buku How to Master Your Habits sudah selesai dibaca. Ini titik awal merampungkan bacaan dari sekian banyak buku-buku yang telah saya beli. Karena selama ini setiap beli buku hampir rata-rata tidak selesai dibaca. #KurangKomitmen 😀

Merampungkan buku ini sekaligus meniatkan kembali untuk membuat habit yang baru.

Spriral pembentukan habit adalah:
Learn > Commit > Practice > Repetition > Habits > Kembali ke Learn

ilustrasinya sebagai berikut

image

Jika selama ini bersemangat untuk membeli buku tetapi belum komitment untuk membacanya sampai habis, maka setelah ini akan membaca sampai habis buku-buku yang sudah lama antri untuk dibaca.

quote dalam buku ini yang patut selalu diingat adalah sebagai berikut.

Maka sering-seringlah berpikir tentang masa depan, merencanakan masa depan. Karena masa depan menentukan aktifitas apa yang kita lakukan saat ini.

image

Next baca sampai habis buku berikutnya..

Latih + Ulang = Habits